DOKTER TAKUT TEKOR, INI JAWABAN BPJS

DOKTER TAKUT TEKOR, INI JAWABAN BPJS

Sistem asuransi kesehatan jaminan kesehatan nasional (JKN) 2014 sudah resmi dilaksanakan pada 1 Januari 2014. Kendati sistem ini menjamin pelayanan kesehatan yang diperoleh masyarakat, pelaksanaan JKN 2014 masih menimbulkan kekhawatiran. Salah satunya mengenai besaran pendapatan yang diterima dokter.

“Biaya kapitasi dan INA-CBG’s yang terlalu kecil berisiko menyebabkan dokter tekor. Kalau sudah begitu dokter tidak mampu lagi memenui kebutuhan sehari-hari. Padahal kita juga perlu mengikuti kursus untuk menambah pengetahuan,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI), Zainal Abidin, pada KOMPAS Health Senin (6/1/2013).

Kekhawatiran ini dibantah PT Askes sebagai penyelenggara BPJS Kesehatan. Menurut Direktur Pelayanan PT Askes (persero), Fadjriadinur besaran biaya kapitasi untuk fasilitas layanan primer dan Indonesia Case Based Group’s (INA-CBG’s) untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut, sudah sesuai dan memberi manfaat bagi dokter maupun pasien.

“Sebetulnya pelaksanaan JKN 2014 tidak perlu membuat dokter khawatir, karena tidak perlu lagi mengumpulkan banyak pasien seperti fee for services,” ujarnya.

Tarif kapitasi dihitung berdasarkan jumlah peserta terdaftar, tanpa memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan. Tarif ini terdiri atas Rp. 3 ribu – Rp. 6 ribu untuk puskesmas, Rp. 8 ribu – Rp. 10 ribu untuk klinik pratama, praktek dokter, atau dokter praktek beserta jaringannya, dan Rp 2 ribu untuk praktik dokter gigi mandiri. Perbedaan didasarkan atas kelengkapan fasilitas dan kapasitas pasien pada tiap layanan kesehatan.

“Ada beberapa pembeda salah satunya dokter gigi. Fasilitas kesehatan yang punya dokter gigi akan memperoleh kapitasi lebih besar. Pembeda lain adalah jumlah dokter dan lamanya layanan dibuka untuk umum,” kata  Fadjriadinur, pada temu media yang membahas BPJS Kesehatan di Jakarta pada Senin (6/1/2013).

Pendapatan dokter layanan primer, lanjutnya, akan bergantung pada sisa biaya kapitasi. Makin sedikit masyarakat yang sakit, maka biaya kapitasi yang digunakan untuk mengobati penyakit semakin kecil. Sehingga sisa biaya, yang salah satunya digunakan untuk membayar jasa medik dokter, bisa semakin besar.

“Dokter layanan primer memang tidak memiliki pemasukan tetap karena biaya kapitasi yang mungkin berubah tiap bulannya. Di sinilah dokter layanan primer rmemfungsikan diri sebagai dokter keluarga, yang merupakan care manager. Dia dituntut melakukan upaya promotif dan preventif, sekaligus menjalin jejaring sehingga biaya kapitasi layanannya bisa lebih besar,” kata Fajriadinur.

Satu dokter layanan primer, kata Fajriudin, idealnya melayani 5.000 penduduk. Bila pada layanan tersebut ada 2-3 dokter, maka tanggungan pasien bisa menjadi 10.000- 15.000 jiwa. Dengan biaya kapitasi 8.000, maka anggaran fasitas kesehatan tersebut berkisar Rp. 80.000.000 – Rp. 120.000.000. Bila yang sakit hanya 3.000 penduduk maka kapitasi yang keluar adalah Rp, 24.000.000, sehingga layanan primer memiliki sisa kapitasi Rp.56.000.000 – Rp. 96.000.000. Jumlah itulah yang kemudian mejadi pemasukan dokter, setelah dikurangi biaya operasional lain yang berbeda di tiap wilayah.

Sementara dokter di tingkat layanan lanjut dibayar melalui sistem renumerasi, yang merupakan kesepakatan antara dokter dan manajemen rumah sakit swasta maupun pemerintah. Tarif renumerasi tersebut dibayar dengan harga paket yang ada dalam INA-CBG’s, termasuk penggunaan obat dan fasilitas lainnya. Tarif rumahsakit A, B, C, dan D berbeda bergantung pada fasilitas dan kapasitas di rumah sakit tersebut.

“Tarif ini nantinya mirip gaji bulanan dan diterima dalam jumlah tetap, tak bergantung pada banyaknya pasien yang datang seperti fee for services. Sistem ini memungkinkan pasien terdistribusi merata pada seluruh dokter. Banyaknya paket yang diambil bisa menyesuaikan dengan jumlah dokter serupa di layanan kesehatan tersebut,” kata Fajriudin.

Meski dokter layanan primer terkesan tidak memperoleh pemasukan tetap, layaknya dokter pada layanan tingkat lanjut, namun hal tersebut secara perlahan menurut Fajriudin akan membaik dan menemukan pola yang cenderung tetap.

Dengan pengaturan ini, diharapkan dokter tak lagi khawatir pada jumlah pemasukan. Apalagi sistem ini masih membuka kemungkinan dokter berpraktek di tempat lain, dengan jumlah maksimal 3 lokasi. (Sumber kompas.com)

 

Komentar

Anda harus terdaftar untuk komentar daftar
Tidak ada komentar dalam artikel ini.

Berita Terbaru

Hilangkan Bekas Luka dengan Bahan Alami Ini

  Bekas luka pada kulit tubuh memang menyebalkan. Selain mengganggu keindahan kulit bekas luka juga menganggu penampilan terutama bagi wanita, yang ingin memilih pakaian. Memakai krim penghilang bekas luka harganya mahal? Kamu dapat menggunakan bahan-bahan alami dan sederhana yang dapat membantu menghilangkan bekas luka. Inilah beberapa bahan alami yang dapat digunakan untuk menghilangkan bekas luka seperti dilansir dari Boldsky :    

Tips Mengikuti UKDI

Untuk menentukan kompetensi seorang calon dokter, diperlukan tes kompetensi dokter yang biasa disebut Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI). UKDI ini sengatlah penting bagi para lulusan kedokteran agar dapat mengurus pengajuan surat ijin praktek dokter atau “medical license”.

Surat Keputusan IDI mengenai UKDI Februari dan Mei 2014 sumber:  http://www.idionline.org/

MAXIMA MEDICAL GROUP

Informasi resmi dari KDPI untuk kejelasan pelaksanaan UKDI batch Mei 2014 dan UKDI batch Februari 2014 sumber:  http://www.idionline.org/

    http://www.idionline.org/2014/04/informasi-resmi-dari-kolegium-dokter-primer-indonesia-kdpi/

Peringatan Hari TB Sedunia: Peran IDI dalam Penanggulangan TB di Indonesia

Pencapaian indikator MDG untuk TB di Indonesia cukup memuaskan dan diperkirakan semua indikator TB akan dicapai sebelum waktu yang ditentukan pada tahun 2015. Selain dari pada itu, keberhasilan pengendalian TB di Indonesia juga ditunjukkan dengan apresiasi dari beberapa tokoh penting di dunia, di antaranya adalah Sekjen PBB Ban Ki Moon melalui surat langsung kepada Presiden Republik Indonesia yang menyampaikan penghargaan atas upaya pengendalian TB di Indonesia pada tahun 2012.

Artikel Terkait

Peringatan Hari TB Sedunia: Peran IDI dalam Penanggulangan TB di Indonesia

Mobilus Interactive is a fast growing IT Service Company based in Bandung, Indonesia. Our core business are web application development, mobile application and semantic web research center. We are experienced in domestic and aboard. Joota, NEF (New Enterpreneur Fondation), PERHEBAT, ITB Career Center, SNSM (Sikh Naujawan Sabha Malaysia), and KL Pavilion Design Studio are some of our clients.We are specialized on developing high quality software with a very competitive price. Your satisfaction is our priority.

Peringatan Hari TB Sedunia: Peran IDI dalam Penanggulangan TB di Indonesia

Maxima Alat Kesehatan menjual alat-alat Rontgen dan filmnya dengan harga terjangkau

Peringatan Hari TB Sedunia: Peran IDI dalam Penanggulangan TB di Indonesia

Untuk menentukan kompetensi seorang calon dokter, diperlukan tes kompetensi dokter yang biasa disebut Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI). UKDI ini sengatlah penting bagi para lulusan kedokteran agar dapat mengurus pengajuan surat ijin praktek dokter atau “medical license”.

Peringatan Hari TB Sedunia: Peran IDI dalam Penanggulangan TB di Indonesia

    http://www.idionline.org/2014/04/informasi-resmi-dari-kolegium-dokter-primer-indonesia-kdpi/

Peringatan Hari TB Sedunia: Peran IDI dalam Penanggulangan TB di Indonesia

Ketua Umum PB IDI, Dr. Zaenal Abidin, MH pada tanggal 17 April 2014 melantik , Dr Hj Andi Khasma Padjalangi. M.Kes sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Bone untuk periode 2013 sampai 2016 dan beserta pengurus lainnya di Gedung PKK, Jalan Andi Mappanyuki, Kelurahan Macanang, Kec Tanete Riattang Barat Kab Bone Sulawesi Selatan.     sumber: http://www.idionline.org/2014/04/pelantikan-idi-cabang-bone/